Sabtu, 14 November 2015


BAB II Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni

Sejarah dalam makna obyektif adalah peristiwa atau kejadian, sedangkan dalam makna subyektif adalah cerita tentang peristiwa yang telah lalu. Cerita sejarah berbeda dengan cerita dalam sastra. Ada persyaratan ilmiah tertentu dalam penyusunan cerita sejarah, sehingga kebenaran cerita sejarah dapat dipertanggungjawabkan.
1. Sejarah sebagai peristiwa
Berbagai peristiwa atau kejadian yang menyangkut manusia berlangsung setiap saat secara kronologis di seluruh dunia. Setiap peristiwa yang telah terjadi dapat dikategorian dalam peristiwa sejarah. Sehingga yang dimaksud sejarah sebagai peristiwa adlah peristiwa atau kejadian yang telah terjadi, yang hanya sekali terjadi dan tidak mungkin diulangi lagi.
2. Sejarah sebagai kisah
Sejarah sebagai kisah adalah cerita atau kisah tentang suatu peristiwa yang telah terjadi. Beberapa peristiwa yang telah berlalu ternyata memiliki kesan yang mendalam, sehingga berusaha untuk diungkapkan kembali dalam bentuk cerita atau kisah. Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi meninggalkan jejak-jejak yang dapat dijadikan sumber untuk penelusuran kembali tentang bagaimana sesungguhnya peristiwa itu terjadi. Ada prosedur dan proses tertentu yang disebut metode sejarah yang harus dilalui dalam penyusunan kembali ( rekonstruksi ) sesuatu peristiwa sejarah sehingga kisah yang dihasilkan obyektif dan mendekati peristiwa yang sebenarnya.
3. Sejarah sebagai ilmu
Menurut York Powell, bahwa sejarah bukanlah sekedar suatu cerita yang indah, instruktif dan mengasyikkan, tetapi merupakan cabang ilmu pengetahuan.
Sejarah sebagai ilmu artinya sejarah ditempatkan sebagai pengetahuan tentang masa lampau yang disun secara sistematis dan memiliki metode pengkajian ilmiah untuk mendapatkan kebenaran.
Sejarah bisa dikatakan sebagai ilmu karena memenuhi syarat-syarat keilmuan, yaitu …
a. Ada masalah yang menjadi obyek
Dalam sejarah, yang menjaadi obyek kajian adalah kejadian-kejadian yang dialami manusia, di dalamnya terkandung hubungan sebab- akibat.
b. Terdapat suatu metode
Metode yang digunakan dalam sejarah adalah sejumlah langkah ilmiah untuk menguji kebenaran bukti-bukti sejarah / sumber-sumber sejarah
c. Tersusun secara sistematis
Untuk memenuhi standar keilmuan, maka cerita sejarah disusun secara sistematis dan kronologis berdasarkan urutan waktu kejadian.
d. Berdasarkan pemikiran yang rasional
Semua bukti dan sumber sejarah harus dikaji, diteliti dan dianalisis secara rasional / ilmiah dengan bantuan ilmui-ilmu yang mendukung.
e. Kebenaran yang obektif
Obyektivitas cerita sejarah dapat dilakukan dengan mengkaji dan menyusun cerita sesuai dengan kejadian yang ada, realitas sesuai fakta
4. Sejarah sebagai seni
Tokoh yang berpandangan kuat sejarah sebagai seni adalah George Macaully Travelyan.
Dikatakan sejarah sebagai seni karena untuk menyusun cerita sejarah tidaklah mudah, perlu adanya kekuatan intuisi, imajinasi, emosi dan gaya bahasa dari sejarawan
a. Intuisi
Sejarawan dalam melakukan pengkajian mesti didukung oleh instink, ilham meskipun tidak terlepas dari data secara obyektif.
b. Imajinasi
Sejarawan perlu memiliki daya imajinasi yang diperlukan dalam menggambarkan peristiwa atau kejadian secara kompleks dan hidup, tetapi tetap bersandar pada obyektivitas.
c. Emosi
Sejarawan harus mampu menggamparkan suatu peristiswa-kejadian dengan hidup dan menarik, sehingga sejarawan harus melibatkan emosi / rasa dalam menyusun cerita seolah dirinya mengalami sendiri, tetapi tetap berpegang teguh pada obyektivitas
d. gaya bahasa
Gaya bahasa dalam penulisan sejarah diperlukan, tetapi bukan berarti bahwa karya sejarah itu bahasanya berbelit-belit atau berbunga-bunga, melainkan tetap lugas dan sistematis tetapi menarik untuk dibaca. Sebagai misal dalam penggunaan istilah ataupun idiom dapat disesuaikan dengan jamannya. Contoh : penggunaan kata ganyang, diamankan , terjang lawan dan sebagainya.
Tetapi bila dalam penulisan sejarah sebagai seni, sejarawan lupa pada batas-batas dan standar keilmuan sejarah, maka fungsi sejarah sebagai seni akan lemah, sebab akan kurang obyektif dan terlalu terbatas pada obyek-obyek yang ditulis.